Dosen Website
Universitas Pancasila
Valid XHTML 1.0 Transitional Valid CSS!

Selamat Datang di Website Dosen

Website ini diperuntukkan untuk informasi Dosen di Universitas Pancasila. Bagi dosen yang belum tercantum dapat menghubungi PULAHTA Rektorat

Berita Dari Kami

2013-05-08 08:51:40
Untag Telah Luluskan 35.000 Sarjana
2013-05-08 08:51:25
FKIP Untirta Gelar Gebyar Hardiknas 2013
2013-05-08 08:50:53
Hasil penelitian wajib disertai sosialisasi

Publikasi Penelitian Dosen

KINSHIP AS A DETERMINING FACTOR OF SETTLEMENT ON CIBAL CLAN, FLORES
Abstrak

Kinship as a  determining factor of settlement

on Cibal Clan, Flores

 

L. Edhi Prasetya

Architecture Department Pancasila University

Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan

Telp.(021) 7864730 ext. 15/30 Fax (021) 7270128

prastyan@yahoo.com

 

Abstract

Architecture in the beginning is a human reflection of making place for shelter, later considering the development of the society, the needs and demands of the people for the house is increase, not only a place for shelter but also a  reflection of complex idea and behaviour as a manifestation of cultural system which guided them.

The diversity of Indonesian traditional architecture is a cultural richness which attracted to research, traditional architecture of Manggarai is one of them, laid in Flores Island, one of the East Nusa Tenggara isles. 

Cibal Manggaraians culture which stand their belief on the spirit of the ancestors, empo and the strong familiarity wa’u as social patrilineal community base on kinship, having an uniqueness cause the wa’u live in the same settlement called golo.

The research found that Cibal people having strong family relationship, which stand on “patrilineal system”, and the religion system belief on the spirit of the ancestors, these religion and Patrilineal clan being a matter thing that form their settlement.    

This paper is a preliminary research which study the relations of cultural system in architecture, describe the elements of Manggarai settlement in relation with patrilineal clan, kinship and religion. For the future, researcher hope that it can continued with deeply research in the frame of preservation and conservation of traditional settlement of Cibal, Manggarai to completed the vocabulary of Nusantara traditional architecture.

 

Key word: Kinship, elements of settlement, Cibal architecture

Penulis : L EDHI PRASETYA , ST, MT [PDF File] didownload : 4350 x

RE-EMPHASIZE URBAN LINKAGE CONTINUITY AS AN EFFORT FOR CONSERVATING PANGGUNG KRAPYAK YOGYAKARTA
Abstrak

Re-Emphasize Urban Linkage Continuity As An Effort For Conservating Panggung Krapyak Yogyakarta[1]

L. Edhi Prasetya

Dharma Widya

 prastyan@yahoo.com : Architecture Department Pancasila University
widya65@yahoo.com : Architecture Department, Institut Teknologi Medan

 

Abstract

Conservation is, therefore, primary a process which leads to the prolongation of the life of buildings and cultural property for its utilization now and the future. The main essence of conservation is to raise the people prosperous where the object of conservation stand, and bring back emotional and astonishment to its object as part of heritage.

Panggung Krapyak, which built by Pangeran Mangkubumi later known as Sultan Hamengkubuwana I about 250 years ago, is still stand up now and there is no significant damaged cause this building as a part of Kraton Yogyakarta property is protected from public teased and harmed, however as an old building, climate and minimum maintenance become the dominant factor of damaging.

This paper would express the ideas and strategy of rehabilitation and revitalization Panggung Krapyak as a Kraton Yogyakarta heritage, there is include its historical and cosmological aspects. Revitalization strategy would embrace macro context to become the urban linkage continuity and also meso context as part of urban node.

Key words         : Panggung Krapyak, Urban conservation, linkage continuity. 



[1] Presented on ”International Seminar The Knowledge City: Spirit, Character and Manifestation “ Deparment of Architecture, University of Sumatera Utara, Medan, November 13th -14th  2007.

Penulis : L EDHI PRASETYA , ST, MT [PDF File] didownload : 4354 x

RIVER BANK PLANNING AS PART OF URBAN CONSERVATION
Abstrak

River Bank Planning As Part Of Urban Conservation[1]

 

 

L. Edhi Prasetya

Full-time lecturer: Architecture Department - Pancasila University, Jakarta  12640

Part-time lecturer: Architecture Department - Tama Jagakarsa University, Jakarta  12530

 

Corresponding author: prastyan@yahoo.com

 

 Abstract

River bank area, in a traditional society become the main part of history, since their live formerly begin from river bank and their use of river as a main transportation. For the large part of people in Indonesia now, river bank still hold the vital role for urban poor community since this area neglected in urban planning, become the “free paid land” which occupied by urban poor community.     

Urban planning which neglect river bank arrangement would create urban squatter and reduces the environment quality, reduce urban visual quality and finally contribute the urban degradation influenced by environmental degradation.

Set of actions and policy need to create to increase quality of river bank area, thus river bank area can be revitalized become the area that afford the urban visual quality, raise the environment quality and last but not least increasing human living.

This study would analize the programs of river bank arrangement in Yogyakarta, Banjarmasin and Jakarta along with its urban characteristic, then formulated a conclusion for the river bank arrangement that give benefit for urban and environment  conservation.    

Key word: water front planning,  urban revitalization



[1] Presented on “International Symposium, Architecture, Urbanization and Development: Toward Sustainable Cities in Nusantara”,  Department of Architecture-Tri Karya University, Medan, 2008.

Penulis : L EDHI PRASETYA , ST, MT [PDF File] didownload : 4353 x

PENATAAN KAWASAN BANTARAN SUNGAI MARTAPURA BANJARMASIN SEBAGAI RUANG TERBUKA REKREATIF
Abstrak

Penataan Kawasan

Bantaran Sungai Martapura Banjarmasin

Sebagai Ruang Terbuka Rekreatif

 

L. Edhi Prasetya

 

Abstrak Kawasan tepi sungai dalam masyarakat tradisional selama ini memiliki peran penting dalam sejarah pertumbuhan kampung, sebagai bagian dari media pergerakan, menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya. Sejarah kemudian berkembang, hingga saatnya kini, kawasan tepi sungai berkembang menjadi kawasan permukiman kumuh. Pengabaian pada keberadaan kawasan tepi sungai dalam perencanaan kota merupakan salah satu sebab kawasan ini menjadi lahan ”tak bertuan” dan menjadi konsentrasi kaum miskin kota.  

 

Perencanaan bagian kawasan kota dengan pengabaian pada penataan kawasan tepi sungai, menimbulkan permukiman kumuh sepanjang sisi sungai dan memberi konstribusi pada penurunan kualitas lingkungan, mengurangi kualitas visual kota hingga akhirnya memberi konstribusi pada penurunan kualitas fisik kota.

 

Serangkaian tindakan patut dilakukan untuk meningkatkan kualitas fisik dan visual kota, terutama menyangkut kawasan sepanjang bantaran sungai, sehingga revitalisasi kawasan bantaran sungai akan memberi manfaat bagi peningkatan kualitas kota dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas dan harkat hidup penduduk kota.

 

Kota Banjarmasin dibelah oleh Sungai Martapura dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut Jawa, sehingga berpengaruh kepada drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, terutama pemanfaatan sungai sebagai salah satu prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan dan perdagangan. Mengingat demikian pentingnya fungsi sungai bagi kehidupan masyarakat Banjarmasin, penataan kawasan bantaran sungai menjadi prioritas bagi Pemerintah Kota.

 

Penataan kawasan bantaran sungai dengan Program Revitalisasi, bertujuan untuk memberikan tempat rekreasi yang representatif bagi warga kota, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan kota. Beberapa program fisik yang telah terlaksana, melalui pembangunan siring di tepi sungai Martapura, menjadi fokus dari paparan ini, strategi penataan bantaran sungai, kualitas visual yang terbentuk dan apresiasi masyarakat kota sebagai pemakai ruang terbuka pada bantaran sungai Martapura, akan menjadi fokus dari studi ini.

 

 

 

Kata Kunci : strategi,  kualitas visual, apresiasi pemakai.

 

Penulis : L EDHI PRASETYA , ST, MT [PDF File] didownload : 4360 x

KONSERVASI KAWASAN PANGGUNG KRAPYAK YOGYAKARTA MELALUI PENDEKATAN URBAN LINGKAGE
Abstrak

Konservasi Kawasan Panggung Krapyak Yogyakarta Melalui Pendekatan Urban Linkage

 

L. Edhi Prasetya

 

 

Jurusan Arsitektur Universitas Pancasila

Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan

prastyan@yahoo.com

 

 

 

Abstrak

Konservasi merupakan upaya dan tindakan penyelamatan bangunan, lingkungan binaan atau obyek bersejarah baik fisik maupun non-fisik (kultural). Hakikat utama dari tindakan konservasi adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat dimana obyek itu berada,selain membawa kembali rasa emosi dan ketakjuban akan obyek tersebut sebagai bagian dari peninggalan sejarah.   

Panggung Krapyak yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I pada tahun 1785, sampai saat ini masih tegak berdiri, tidak banyak kerusakan berarti pada bangunan ini karena sebagai bagian dari bangunan peninggalan Kraton tidak satupun masyarakat mengusik keberadaannya, namun sebagaimana umumnya kerusakan bangunan bersejarah faktor utama adalah karena faktor alam dan minimnya pemeliharaan bangunan.

Tautan urban kawasan Panggung Krapyak dengan kawasan Kraton Yogyakarta sangat erat, termasuk dalam hubungan simbolik sumbu imajiner Merapi – Kraton - Laut Selatan, melalui pendekatan urban ini, maka strategi konservasi kawasan diretaskan. Dalam  hubungan dengan tautan urban, potensi sosial ekonomi kawasan Krapyak menjadi titik awal strategi konservasi kawasan digulirkan,  sebab pada dasarnya selain mengembalikan makna kultural suatu tempat, konservasi haruslah memberi pengaruh pada peningkatan taraf hidup masyarakat sekitarnya.     

Tulisan ini akan mengungkapkan gagasan/ strategi penyelamatan dan revitalisasi bangunan Panggung Krapyak sebagai bangunan bersejarah, termasuk makna historis dan kosmologis dari bangunan itu, strategi revitalisasi obyek akan meliputi konteks makro sebagai bagian dari kontinuitas linkage urban, maupun dalam lingkup meso sebagai bagian dari kontinuitas linkage kawasan.

Kata kunci: Panggung Krapyak,  konservasi kawasan, kontinuitas linkage.

Penulis : L EDHI PRASETYA , ST, MT [PDF File] didownload : 4354 x

<< Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 Next >>