Dosen Website
Universitas Pancasila
Valid XHTML 1.0 Transitional Valid CSS!

Selamat Datang di Website Dosen

Website ini diperuntukkan untuk informasi Dosen di Universitas Pancasila. Bagi dosen yang belum tercantum dapat menghubungi PULAHTA Rektorat

Berita Dari Kami

2013-05-08 08:51:40
Untag Telah Luluskan 35.000 Sarjana
2013-05-08 08:51:25
FKIP Untirta Gelar Gebyar Hardiknas 2013
2013-05-08 08:50:53
Hasil penelitian wajib disertai sosialisasi

Publikasi Penelitian Dosen

DESAIN BODI KENDARAAN PADA KENDARAAN MOBIL RODA TIGA
Abstrak

DESAIN BODI KENDARAAN PADA KENDARAAN MOBIL RODA TIGA

 

Megara Munandar, Djoko Karmiadji, Eka Maulana

Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Pancasila

Email : munandar_gara@yahoo.co.id

 

 

ABSTRACT

Three-wheeled vehicles in terms of car body shape is smaller than the four-wheeled vehicle, so it is deemed better. Inside research goal is to produce a body design is optimal in terms of aspects of aerodynamics and stability of vehicle. Design method used to obtain optimal method is a method johnson. Stages johnson design method includes identifying needs, black box, sub-function, structure function, morphology chart / method combination, value of variant, criteria of quality products, tree needs, criteria weighting variance, and determine the value of entirety concept. From results of research design used to obtain optimal results. Identify needs of consumers are prime targets for development of products customers can take advantage of and use the product, but they will determine product is good / bad. Black box is a translation of main functions of body on each piece, protecting, securing passengers from collision, protecting the engine from weather, and passenger luggage. After a data sub-functions and complete combination of principles sought solutions to meet sub function, morphology chart / combination method is a method of combining all existing solutions in form a matrix, later do election and combination of sub-function variants of principle solution to form-most variants support the variant 1, variant 2 and variant 3. Once established does it become next variant determines of variance, variance according to VDI 2221 a scale of 1 to 5 with not satisfactory to very good. Criteria for quality products have 8 including: safe, models, efficient, easy to maintain, easy to operate, easy to use, and convenient functionality. It all depends on willingness of consumers to use which. So selected 3 models including product quality, safe and efficient. Herein after described and translated to in tree needs of. After calculation in designing 3 variants obtained good.

 

Keywords : Body of three-wheeled vehicle

Penulis : MEGARA MUNANDAR, ST, MT [PDF File] didownload : 81 x

Abstrak
Penulis : GATUT LUHUR BUDIONO, PhD. MBA. [PDF File] didownload : 41 x

HUMAN CAPITAL INVESTMENT: AN IMPROVEMENT OF BUSINESS AND ECONOMY OF INDONESIA
Abstrak

Although it requires very large investment funds and advanced technologies, but improvements in education to increase public knowledge and skills to be able to better compete globally should be executed. The improvement of education could increase knowledge and skills of society. The improvement of knowledge and skills could encourage people to work better, more professional, competitive and more capable improving business conditions and the region's economy; furthermore the country would possibly winning competition globally.

Penulis : GATUT LUHUR BUDIONO, PhD. MBA. [PDF File] didownload : 33 x

PENYUSUNAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) AHLI PENILAI BANGUNAN HIJAU
Abstrak

Abstrak

Konsep bangunan hijau menjadi arus utama dunia saat ini, karena kesadaran akan pemanasan global dengan pembenahan iklim mikro, ketersediaan sumber daya yang makin terbatas, serta pemanfaatan energi terbaharukan. Arsitektur ramah lingkungan, yang juga merupakan arsitektur hijau, mencakup keselarasan antara manusia dan lingkungan alamnya. Arsitektur hijau mengandung juga dimensi lain seperti waktu, lingkungan alam, sosio-kultural, ruang, serta teknik bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau bersifat kompleks, padat dan vital dibanding dengan arsitektur pada umumnya. Sejalan dengan hal tersebut, kebutuhan tenaga kerja dibidang bangunan hijau, mencakup kemampuan melakukan penilaian bangunan hijau, menjadi sebuah keniscayaan, karena audit terhadap konsumsi energi pada bangunan merupakan bagian mutlak dari proses penilaian bangunan hijau, sebelum sebuah bangunan, kemudian dinyatakan memiliki sertifikat tertentu. Standar Kompetensi adalah perumusan tentang kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan. SKKNI merupakan suatu hal yang sangat penting dan dibutuhkan sebagai tolok ukur untuk menentukan kompetensi tenaga kerja sesuai dengan jabatan kerja yang dimilikinya. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk tenaga kerja jasa konstruksi disusun berdasarkan analisis kompetensi setiap jabatan kerja yang melibatkan para pelaku pelaksana langsung dilapangan dan para ahli dari jabatan kerja yang bersangkutan. Tata urut penyusunan SKKNI Ahli Penilai Bangunan Hijau dilakukan melalui tahapan: desk study, survei, wawancara dan workshop, berbagai tahapan workshop dilakukan, termasuk memverifikasi hasil workshop kepada Kementerian Tenaga Kerja, setelah diverifikasi dan direvisi sesuai usulan dari Kementerian Tenaga Kerja, selanjutnya RSKKNI (Rencana Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) untuk jabatan Ahli Penilai Bangunan Hijau akan disahkan dan ditetapkan menjadi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) oleh Menteri Tenaga Kerja. Proses panjang penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk Ahli Penilai Bangunan Hijau, diharapkan akan menghasilkan tenaga Ahli Penilai Bangunan Hijau yang kompeten dan memiliki kualifikasi kerja yang handal.

Kata kunci: bangunan hijau, standar kompetensi kerja, ahli penilai bangunan hijau 

 

Penulis : L EDHI PRASETYA , ST, MT [PDF File] didownload : 54 x

BUDAYA LOKAL SEBAGAI POTENSI DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) KABUPATEN ASMAT
Abstrak

Kabupaten Asmat di Propinsi Papua memiliki luas wilayah Kabupaten Asmat mempunyai luas wilayah ± 23.746 Km2 , dengan Kondisi fisik dasar sebagian besar (80 %) adalah rawa. Kabupaten Asmat memiliki karakteristik budaya yang sangat khas. Produk budaya tangible berupa ukiran dan kerajinan dari suku Asmat juga sangat terkenal hingga ke luar negeri. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI) yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia diterapkan dalam kerangka mencapai tujuan yaitu penyiapan kawasan dengan keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. Potensi Kabupaten Asmat untuk dikembangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bertujuan meraih peluang investasi melalui pendekatan kewilayahan, ketersediaan dan rencana pengembangan infrastruktur di masa mendatang sehingga dapat mendukung peningkatan ekonomi wilayah/kawasan secara signifikan. Potensi budaya lokal Asmat, akan dikaji kembali, dan dilakukan studi lebih mendalam, untuk kemudian hasil studi tersebut, bersama hasil studi lain menyangkut demografi, sumber daya alam, transportasi, mitigasi bencana dan lain sebagainya akan melengkapi kajian komprehensif menyangkut kesiapan Kabupaten Asmat untuk pengembangan kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kabupaten Asmat.  Beberapa hal yang menjadikan alasan mengapa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) penting untuk dikembangkan di Kabupaten Asmat. Asmat yang merupakan sebuah wilayah pemerintahan yang baru, masih menghadapi sejumlah persoalan dalam proses pembangunan sehingga kebijakan otonomi khusus papua, harus di terjemahkan dan ditindaklanjuti dalam bentuk program kegiatan strategis yang tepat sasaran dan terukur. Kondisi alam Kabupaten Asmat, berupa sungai dalam ukuran yang besar dan berhulu pada lereng pengunungan tengah papua bagian selatan, dapat menjadi alur lalu lintas/ gerbang dan nadi pembangunan kawasan Asmat dan Papua tengah, pada sisi lain geografis Kabupaten Asmat sangat strategis untuk dikembangkan, dan menjadi pintu gerbang untuk pengembangan wilayah kabupaten lainnya di bagian tengah Papua.

 

Kata kunci: budaya lokal, potensi budaya, pengembangan KEK

 

Penulis : L EDHI PRASETYA , ST, MT [PDF File] didownload : 67 x

<< Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 Next >>